Rabu, 03 Juli 2013

Hukum Jinayah Menurut Fiqh

Hukum Jinayat menurut Fiqh
Oleh : Yasir Fajri

A.    Pengertian Hukum
Menurut La Rousse hukum adalah keseluruhan dari prinsip-prinsip yang mengatur hubungan antara manusia dalam masyarakat dan menetapkan apa yang oleh tiap-tiap orang boleh dan dapat dilakukan tanpa memperkosa  rasa  keadilan. A. Halim Tosa, SH setelah menyebutkan  beberapa buah devenisi hukum yang dikemukakan  oleh  ahli hukum, menyimpulkan bahwa hukum adalah rangkaian peraturan yang mengatur hubungan antar anggota masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat lainnya, hubungan antara anggota  masyarakat (badan hukum) atau hubungan  antara badan hukum yang satu dengan badan yang lain, agar dengan demikian ketertiban, kebenaran dan keadilan dalam masyarakat dapat ditegakan.[1]
Untuk melihat pengertian hukum, mari kita perhatikan devenisi hukkum yang disampaikan oleh pakar hukum Islam, antara lain devenisi yang disebut oleh Zakariya Anshari, yaitu :
Hukum adalah titah Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, baik bersifat tuntunan, piliha atau yang lebih umum, yaitu wazh’i”.[2]

Berdasarkan devenisi ini, dapat di tegaskan bahwa dalam Islam tidak dikenal hukum kecuali yang datang dari Allah Ta’ala. Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ –
Artinya : Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik (Q.S. Al-Maidah : 47)

Penegasan ini bebrbeda dengan hukum dalam pandangan La Rousse dan A. Halim Tossa di atas. Kedua ahli hukum ini mengemukakan pengertian hukum dengan mendasarkan kepada prinsib-prinsib hukum sekuler yang tidak mengenal hukum tuhan. Apa yang menjadai hukum menurut mereka adalah apa yang dianggap sebagai prinsib-prinsib yang muncul dari kesepakatan bersama diantara masyarakat, meski itu bertentangan dengan ajaran tuhan. Islam tidak mengenal hukum yang datang selain dari Allah. Logikanya, Allah lah pencipta manusia dan makhluk lainnya, tentu Allah lah yang lebih tahu apa seharusnya dilakukan manusia, apa yang terbaik dan apa yang menjadi adil bagi manusia. Islam mengajarkan kepada kita bahwa kedaulatan ada ditangan Allah, bukan di tangan rakyat. Ini sesuai dengan firman Allah, berbunyi :
ذَلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ -١٠-
Artinya : demkianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Mumtahannah : 10)

Ciri khas hukum Islam yang membedakan hukum pada umumnya, adalah sanksinya disamping merupakan hukuman duniawi, juga merupakan bagian dari ajaran agama. Dengan demikian hukuman nya merupakan pernyataan taubat, yang diharapkan dapat mengampuni dosanya di akhirat kelak, meskipun diakui bahwa kesediaan menjalani hukuman bukan berarti itu merupakan taubat yang diwajibkan, karena taubat dari dosa besar bagaimanapun harus memenuhi kaerekteria-karekteria yang di tentukan, antara lain :
1.      Menyesali perbuatan
2.      Bercita-cita tidak mengulangi perbuatan dosa itu
3.      Mengembalikan hak orang lain, jika menyangkut dengan dosa anak adam
4.      Minta ampun pada Allah

Namun demikian, apabila seseorang itu menjalani hukuman dengan hati yang ikhlas, niscaya Allah akan menjadikannya sebagai tebusan dosa, sebagaimana tersebut dalam hadits pada akhir tulisan ini.

B.   Pembagian Hukum
Secara garis besar hukum islam terbagi atas dua, yaitu :
1.      Taklifi, yaitu :
Þ    Wajib
Þ    Sunat
Þ    Haram
Þ    Makruh
Þ    Khilaf aula
2.      wadh’i  yaitu :
Þ    shahih
Þ    fasid
Þ    syarat
Þ    sebab
Þ    maani’

C.   Tujuan Pemberlakuan Hukum Islam
secara garis besar hukum Islam bertujuan :
1.      memelihara agama
2.      memelihara akal
3.      memelihara harta
4.      memelihara jiwa
5.      memelihara keturunan[3]
Ad. 1.                 Memelihara agama, dengan disyari’atkan bunuh terhadap orang murtad, jihad fisabilillah, dakwah, kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar dan lain-lain.
Ad. 2.                 Memelihara akal, dengan syari’atkan hudud cambuk 40 kali (epat puluh kali) terhadap peminum miniman keras, mengharakan hal-hal yang dapat mengurangi tingkat kesadaran akal dan lain-lain.
Ad. 3.                 Memelihara harta, dengan disyari’atkan potong tangan atas pencuri, keharusan ijab kabul dalam pengalihan hak milik, keharaman tipu daya dalam mu’amalah dan lain-lain.
Ad. 4.                 Memelihara jiwa, dengan disyari’atkan qishas bagi pelaku pembunuhan dan jinayah lainnya, dilarang melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak tubuh dan jiwa dan lain-lain.
Ad. 5.                 Memelihara keturunan, dengan disyari’atkan pernikahan, pengharaman aborsi, kewajiban mengurus anak dan lain-lain.

D.   Hukum Jinayah
Terjadi perbedaan fuqaha dalam memberi pengertia jinayat, antara lain[4] :

1.      Ibnu Himam dari kalangan Mazhab Hanifi :
Perbuatan yang diharamkan yang dapat menghilangkan jiwa atau anggota tubuh”

2.      Al-Risha’ dari kalangan Mazhab Maliki :
Perbuatan mewajibkan sanksi pelakunya dengan  hudud, bunuh, memotong dan membuang.”

3.      Kalangan Mazhab Safi’i :
Pelukaan yang terjadi atas badan manusia”

4.      Kalangan Mazhab Hanbali :
Perampasan hak atas badan manusia yang dapat mewajibkan qishas atau harta.”

            Berdasarkan devenisi di atas, pengertian jinayat di kalangan fukaha kusus dari yang kita kenal selama ini mencuri, berzina, khamar, berjudi dan perbuatan-perbuatan dosa lain nya yang di hukum dengan ta’jir tidak termasuk dalam kata gori jinayat berdasarkan devenisi diatas. namun demikian diantara ilmuan islam, ada yang mendevenisikannya dengan pengertian yang lebih luas. Dr. Wahbah Juhaili menyebutnya sebagai setiap perbuatan yang diharapkan pada syara’, baik perbuatan itu merugikan jiwa, harta atau lainnya AL-Mawardi, salah seorang ulma dari kalangan Mazhab syafi’i mendevenisikannya sebagai perbuatan haram pasa syara’yang di ganjar hudud atau ta’zir.[5]

            Dari beberapa tulisan dari Prof. Alyasa’ Abu Bakar dan qanun-qanun tentang pelek sanaan syari’at islam Prof. Aceh penulis memahami bahwa yang di maksud dengan jinayah dalam qanun Prof.Aceh bermakna lebih luas. Pengertiannya mencakup semua  yang dapat dikenali saksinya bila terjadi pelangaran pengertian ini sesuai dengan pengertian yang lebih luas yang di sebut terakir. Berdasarkan pengertian yang disebut terakir,maka perbuatan pidana dalam islam (jinayat) dapat di kelompokan tiga macam, antara lain:

1.      Hudud, yaitu perbutan pidana yang hukumnya adalah hak Allah Ta’ala.oleh karna itu,tidak boleh seorangpun mengurugginya atau menghilangkannya dalam keputusan hukum. Perbuatan pidana itu antara lain zina, menuduh berzina, minuman kahamar, mencuri, merampok atau menodong (qatha’thriq), murtad dan memberontak terhadap pemerintah yang syah. Hukumnya baik pelaku pidana hudud adalah:

a.       Penziina yang sudah pernah kawin : rajam sampai mati
Dalilnya:
وإن الر خم في كتاب الله حق على من زنى إذا أحصن، من الر جال والنساء،
Artinya : sesungguhnya razam dalam kitab Allah adalah benar atas penzina laki-laki atau perempuan yang sudah kawin (H.R. Muslim)

b.      Penzina yang belum pernah kawin : cambuk seratua kali dan dibuamg
Dalilnya :
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ -٢-
Artinya: Perempuan dan laki-laki yang berzina, maka cambuklah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali cambuk (Q,S. An-Nur : 2)
Dan hadist :
البكر بالبكر جلد مانة ونفي سنة
Artinya : lajang dengan lajang dicambuk seratuskali dan dibuang satu tahun (H.R. Muslim)

c.       Menuduh berzina : cambuk delapan puluh kali
Dalilnya :
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَداً وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ -٤-
Artinya: dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatngkan empat orang saksi, maka cambuklah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali cambuk, dan dan jangan kamu terima kesaksian dari mereka buat selama-lamanya dan mereka itulah orang-orang yang fasik. (Q.S. an-Nur : 4)
d.      Minum khamar: cambuk empat puluh kali
Dalilnya :
وعن أنس رضي لله عنه أن النبي صتي الله علية وسلم كان يضرب في الخمر بالجريد والنعال أربعين
Artinya: Dari Anas r,a. Sesunguhnya Nabi SAW memukul peminum khamardengan pelepah kurma dan sandel empat pululh kali (H,R,Muslim)
e.       Mencuri: Potong tangan
Dalilnya:
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُواْ أَيْدِيَهُمَا جَزَاء بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ -٣٨-
Artinya: Laki-laki yang menccuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha perkasalagi maha Bijaksana. (Q.S. Al-Maidah:38)
f.        Merampok atau menodong:potong tangan kanan dan kaki kiri jika mengambil harta saja, bunuh jika ada membunuh dan bunuh dan salibjika membunuh dan mmengmbil harta.
Dalilnya:
إِنَّمَا جَزَاء الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَاداً أَن يُقَتَّلُواْ أَوْ يُصَلَّبُواْ أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلافٍ أَوْ يُنفَوْاْ مِنَ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ -٣٣-
Artinya: Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasu-Nnya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari Negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereeka didunia, dan diakirat mereka beroleh siksaan yang besar (Q.S. al-Maidah:33)
g.       Murtad: bunuh
Dalilnya:
من بدل دينه فاقتلوه
Artinya: Barang siapa mengati agamanya, maka bunuhlah dia (H.R.Bukari)
h.       Memberotak (bughah) tanpa ta’wil ataau takwil fasid secara qatha’: bunuh
Dalilnya Q.S. al-Maidah : 33 diatas

2.      Qishas dan diyat. Qishas adalah pemberian hukuman kepada pelaku pembunuhan dan jinayat lainnya seperti menghilangkan tangggan, mata, dan telinga sebagaimana perbuatannya. Qishas dapat berubah kepeda hukuman diyat apabila ahli waris korban memaafkammya.
Dalilnya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأُنثَى بِالأُنثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاء إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ -١٧٨-
Arinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash bekenaan dengan orang-orang yang dibunuh : orang mereka dengan orang mereka, hamba dengan hamba , dan wanita dengan wanita . Maka barang siapa yang mendapat  suatu pema’afan dari saudarnya , hendaklah (yang diberi ma’af) . Membayarik (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). Yang demikianitu adalah suatu keringanan  dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesuatu itu, maka baginya siksa yang sangat pedih (Q,S. al-Bakarah: 178)

Adapun ketentuan membayar diyat adalah sebagai berikut[6]:
  1. Diyat Mughalazhah (jenis berat), yaitu membayar seratus unta untuk satu nyawa, yaitu tiga puluh ekor hiqqah (berumur genap tiga tahun), tiga puluh ekor jiz’ah (berumur genap empat tahun) dan empat puluh ekor unta hamil. Ini diyat atas pembunuhan secara sengaja atau serupa sengaja yang diwajibkan atas sipelaku jinayat sesuai dengan hadist Nabi SWA :
وعن عمروبن شعيب عن أبيه عن جده أن رسول الله صلى الله عليه وسلم‘ قال : من قتل متعمدأ دقع إلى أولياء المقتول فإن شاءوا قتلوه وإن شاءوا أخذوا الدية وهي : ثلاثون حقة ‘ وثلاثون جذعة وأربعون خلفة وما صالحوا عليه فهولهم وذلك لتشديد (1) العقل (2)
Artinya : dari Amr bin syu’aib dari kakeknya Rasulullah SWA bersabda, barang siapa yang membunuh dengan sengaja, maka diserahkan kepada wali korban pembunuh itu, jika walinya menginginkan, maka mengqishas sipembunuh dan jika menginginkan, maka mengambil diyat, yaitu tiga puluh hiqqah, tiga puluh jiz’ah dan empat puluh unta hamil. Apa yang membuat damai antara mereka, maka itu adalah urusan mereka. Yang demikian itu adalah untuk memberatkan pikiran mereka. (H.R. Turmidzi)

  1. Diyat mukhafafah (jenis ringan), yaitu membayar seratus ekor unta dengan rinciannya dua puluh jiz’ah (berumur genap empat tahun), dua puluh hiqqah (berumur genap tiga tahun), dua puluh bintu labun (unta betina berumur genap dua tahun), dua puluh ibnu labun (unta jantan berumur genap dua tahun) dan dua puluh bintu makhazin (berumur genap satu tahun). Diyat ini atas ‘aqilah (wali) sipembunuh yang melakukannya dengan cara tersalah. Disebut sebagai jenis ringan karena kewajiban ini tidak diwajibkan atas pelaku junayah, tetapi atas walinya (‘aqilah) dan pembayaran diyat dapat dilakukan dalam tempo tiga tahun. Keterangan ini berdasarkan hadits riwayat Tutmidzi dan lainnnya
3.      Ta’zir, yaitu perbuatan pidana yang hukuman tidak ditentukan oleh syara’, seperti khalwat, tidak menutup aurat dan lain-lain.hukuman ta’zir dilakukan membuat pelaku pidana menjadi jera.
Berkata Qalyubi :
Ta’zir pada syara’ adalah memberi adab kepada pelakudosa yang tidak ada had dan kifarat pada kebiasaan”.[7]
Berkata Imam An-Nawawi :
Dita’zir setiap maksiat yang tidak ada had dan kifarat dengan memenjarakan, memuul, menempeleng, atau menghina dengan kalam. Imam berijtihad tentang jenis dan qadarnya”.[8]
Dalail adanya hukuman ta’zir antara lain :
  1. Firman Allah Q.S. An-Nisa’ : 34.
وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً -٣٤-
Artinya : wanita-wanita yang kamu khwatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukulah mereka. Kemudian mereka jika menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi Maha Besar. (Q.S. An-Nisa’ : 34)
Zakariya Anshary menyebut Q.S. An-Nisa’ : 34 diatas dalil ta’zir sebelum terjadi ijmak.
  1. Qiyas. Perintah kepada suamii melakukan ta’zir atas istrinya apabila melakukan nusyuz pada ayat diatas adalah karena suami ada hak wilayat atas istrinya. Dengan demikian, perintah ( imam )terhadap rakyatnya juga sama halnya dengan posisi suami terhadap istrinya.
  2. Ijmak Ulama, sebagaimana telah disebut oleh Zakariya Ashary dalam kitab Fathul.
Wahab.[9] Berkata Ibnu Munzir:
“Ijmak ulama bahwa seseorang laki-laki apabila berkata kepada lainnya:” Hai Yahudi atau Hai Nasrani “atasnya ta’zir dan tidak ada hudud”. Pada halaman berikutnya beliau berkata : ”Ijmak ulama bahwa imam berhak menta’zir pada sebagian perkara”.[10]
  1. Hadits Nabi SAW :
من راى منكم منكرا فايغيره بيده فإن لم يستطع فباسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان
Artinya : barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah merobahnya dengan kekuasaannya, jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya dan tidak mampu juga, hendaklah merobah dengan hati, yang demikian itu adalah selemah-lemah iman. (H.R. Muslim).[11]
  1. Hadits Nabi SAW :
من بلغ حدا في غير حد فهو من المعتدين
Artinya : Barangsiapa yang melakukan hukuman hudud pada bukan hudud, maka dia termasuk orang yang melampaui batas. (H.R. Baihaqi)

Kelebihan-kelebihan hukum Islam, antara lain :
  1. Sifat hukum Islam yang konsisten dan tidak berubah mengikuti kondisi, situasi, dan waktu. Berbeda dengan karakter hukum sekuler yang berubah mengikuti kondisi. Hukum sekuler lahir dari hasil pemikiran manusia yang tak lepas dari pengaruh hawa hafsu.
  2. Pelaksanaan hukum Islam merupakan pengejawantahan ketaqwaan sejati. Kewajiban menjalankan hukum Islam tak ubahnya dengan kewajiban shalat, zakat, haji, dan ibadah-ibadah ritual lainya.
  3. Berkarakter jawabir (mengapus dosa akhirat hanya dimiliki hukum Islam. Sistem hukum pidana Islam dapat menggugurkan dosa seorang Muslim di akhirat nanti. Dalam peristiwa baiat aqabah II, Rasulullah saw menerangkan bahwa :
“Barangsiapa yang melakukan kemaksiatan seperti berzina, mencuri dan berdusta, lalu dijatuhi hukuman atas perbuatannya itu, maka sanksi dunia akan menjadi kaffarah (penebus dosa) baginya diakhirat.” (H.R. Bukhari)

Kendala-kendala berlakunya Syari’at Islam
Munculnya phobia terhadap hukum pidana Islam, bahkan hukum Islam secara umum. Mereka yang mengidap phobia ini bisa dibedakan menjadi beberapa kelompok :
Pertama : orang-orang non muslim yang memiliki antipati terhadpa Islam sehingga selalu berusaha mengurangi tegaknya hukum Islam (terutama yang mempunyai dimensi sosial dan politik). Dalam usahanya, mereka mempelajari Islam dengan tekun untuk mencari titik-titik kelemahanya untuk menjadikannya sebagai senjata uantuk menyerang Islam. Dari sinilah kemudian muncul orientalisme.
Kedua : orang-orang yang menolak hukum Islam karena akan merugikan kepentingan-kepentingan pribadinya. Golongan kedua ini bisa berasal dari Muslim ataupun Non Muslim.
Ketiga : orang-orang yang menolak hukum Islam karena belum mempelajari dengan benar.
Beberapa catatan mengenai hukum Jinayat yang perlu diperhatikan, supaya tidak terjadi kesalah pahaman mengenai hukum jinayat, antara lain :
  1. Pelaku zina yang mengakui sendir perbuatannya (al-iqraar) dapat berakibat dirinya di-hadd, namun penuduhan zina terhadap orang lain tidak serta merta menyebabkan tertuduh di-hadd. Bahkan apabila tuduahn itu bukan antara suami isteri dan tidak disertai saksi empat saksi, maka penuduhan diancam dengan hadd qadzf (tuduhan palsu). Sedangkan apabila penuduhan itu terjadi antara suami isteri maka timbullah li’aan (saling melaknat).
  2. Apabila tidak ada penagkuan (al-iqraar), maka hadd hanya bisa jatuh apabila ada persaksian dari empat orang saksi laik-laki yang adil, yang mana saksi-saksi tersebut harusmelihat sendir bahwa hasyafah telah masuk kedalam farj, dan semua saksi harus menyatakan bahwa zina tersebut terjadi pada tempat dan waktu yang sama. Al-Ruyani dalam kitab beliau, Raudhah al-Hukam wa Zinah al-Ahkam mengatakan bahwa seorang hakim harus mendengar kesaksian perzinaan harus bertanya kepada saksi tiga hal, yaitu :
a.       Dengan siapa terdakwa itu berzina ?. ini diperlukan karena seseorang tidak dapat dihukum hudud apabila dia berzina denagn hamba sahaya milik perkonsian.
b.      Bagaimana siterdakwa itu berzina ?. saksi harus mengatakan, “Saya melihat kemaluannya masuk dalam kemaluan perempuan itu”
c.       Di mana terdakwa berzina ?. keempat saksi harus menyebutkan pada tempat yang sama. Apabila terjadi perbedaan peneybutan tempat oleh saksi-saksi tersebut, maka dakwaan berzina harus dicabut.[12]
  1. Penetapan hukum hudud harus tidak ada syubhat, baik bi al-fi’l, ataupun syubhat fi al-hukm, sesuai dega qaidah fiqh :
الحدود تسقط بالشبهات
Artinya : Hudud gugur dengan syubhat.[13]
  1. Demikian pula, banyak orang yang menyangka bahwa setiap pencuri akan dipotong tangannya. Padahal pencuri yang bisa menyebabkan hadd hanyalah pencurian mencapai nishab, yaitu ¼ (seperempat) dinar dan juga tidak disertai syubhat.

Pelaksanaan Syari’at Islam merupakan peneljemaan dari menjadikan Islam sebagai sebuah akidah atau ideologi.
Perlu dicatat bahwa :
  1. Berakidah Islam adalah keimanan yang tinggi dan pasti kepada Allah dan Rasul-Nya dengan segala ajarannya.
  2. Akidah Islam bukan hanya sebuah teori pemikiran yang tersembunyi disudut-sudut otak manusia.
  3. Akibat Islam merupakan sebuah kekuatan yang sangat luar biasa dan bergerak dalam hati dapat memepengaruhi secara positif pada jiwa dan anggota badan.
  4. Memiliki akidah, dapat mendorong seseorang untuk berkiprah di medan jihad dan amal.
  5. Revolusi sosial dan budaya pada masa kejayaan Islam merupakan penjelmaan dari kesadaran berpegang teguh kepada akidah Islam.
  6. Kemampuan bertahan kelompok minoritas muslim pada awal Islam di Mekkah adalah karena keimanan yang tinggi terhadap akidah Islam.




[1]  A. Halim Tosa, SH, Pengaantar Ilmu Hukum Indonesia, fak. Syari’ah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Hal. 2
[2]  Zakariya Anshari, Ghayatul Wushul. Usaha Keluarga, Semarang, hal.6
[3]  Dr. Jalaluddin Adburrahman, Mashalihul Mursalah. Dar al-Kitab al-Jami’i, Kairo, hal. 13-14
[4]  Dr. Yusuf bin Abdullah al-Syabili, fiqh Jinayah, hal. 4-5
[5]  Dr.Wabah Zuhaili ,fiqh ISLAMI Wa Adilatuhu,.Darul Fikri..Beirut,Jus,VI,Hal.215
,
[6]  Lihat Ibrahim al-Bajuri, Hasiyiah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, al-Haramain, Singapura, Juz, II, hal. 211-212
[7]  Qalyubi, Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya at-Turatsi al-Araby, Beirut, juz. IV, hal. 205
[8]  An-Nawawi, minhaj at-Thalibin, dicetak pada hamisy alyubi wa  Umairah, Dar Ihta at-Turatsi al-Araby, beiirut, Juz. IV, hal 205
[9]  Zakariya  Anshary. Fathul .dicetak pada hamisiy Bujairumiy. Darul Fikri .Beirut..Juz ,i.IV. hal 236
[10]  Ibnu Munzir, Al-Ijmak, hal 70 dan 71.
[11]  Imam Muslim. Shahih Muslim, maktabah dahlan, Indonesia, Juz. I, Hal. 69
[12]  Al-Ruyani, Raudhah al-Hukam wa Zinah al-Ahkam, hal. 283-284
[13]  As-Suyuthi. Al-Asybah wa an-Nadhair, al-Haramain. Singapura, hal. 84.